Renungkan n Pahami...
Kisah kesuksesan Ford di industri otomotif setidaknya telah membuka kesadaran banyak orang tentang betapa besar kekuatan yang dapat dibangkitkan oleh kemampuan mental dalam meraih suatu kesuksesan. Dengan pengetahuannya di bidang engineering yang dikatakan sangat minim, bukanlah menjadi penghalang bagi Ford untuk merealisasikan idenya menjadi raja dalam industri ini. Bukan berarti Ford berasumsi bahwa pengetahuan engineering tidak dibutuhkan untuk membangun industri otomotif atau menafikan peranan pengetahuan engineering, tetapi Ford memahami bahwa tatanan umum itu sebatas menawarkan pilihan.
Apakah Instruksi Internal itu?
Seorang 'ahli' mengatakan bahwa Instruksi Internal adalah dorongan internal yang membimbing seseorang untuk meraih dan menyelamatkan dari sesuatu. Ford memahami bahwa dorongan internalnya menunjukkan ide yang ia miliki di bidang industri otomotif dapat direalisasikan dengan menerapkan kelebihan dirinya dalam hal memanajemen dan mengorganisasikan sumber daya manusia. Dengan kelebihan yang ia miliki, Ford menggabungkan manusia dan teknologi rekayasa. Hanya saja secara kebetulan, dorongan yang diberikan oleh instruksi internal itu berlawanan arus dengan tatanan umum yang sedang berjalan di lingkungannya.
Tatanan umum memiliki "aturan" dan standar umum sementara realisasi suatu ide membutuhkan usaha pemberdayaan lebih keras dan lebih cerdas di atas ukuran rata-rata yang dipahami oleh umum. Akibatnya realisasi suatu ide menjadi terkesan sebagai pengecualian. Munculnya pengecualian ini, menurut Anne tidak lepas dari watak dasar instruksi internal yang antara lain dijelaskan sebagai berikut:
1. Tidak Populer
Semua orang memiliki instruksi internal yang menjadi petunjuk menemukan kelebihan dalam dirinya di bidang tertentu . Dengan sifatnya yang tidak populer itu sering terjadi misunderstanding di level umum. Secara umum, bisa diamati bahwa semakin besar kepatuhan seseorang terhadap instruksi internalnya, semakin banyak ditemukan bentuk tertentu yang berbeda dengan tatanan umum yang bisa jadi searah atau berlawanan.
2. Tidak Terlihat
Watak kedua ini menggambarkan sifatnya yang sangat personal sehingga tidak bisa dilihat oleh mata tatanan umum atau oleh diri sendiri kecuali sering berusaha melihat dan menemukannya di dalam diri. Pakar lain menamakan dengan Unseen Guide, penunjuk yang tak kelihatan. Teori psikologi mengatakan bahwa setiap orang sudah dibekali kelebihan atau bakat alamiah. Namun kenyataannya hanya sedikit orang yang berhasil memanfaatkannya. Hal itu mengindikasikan bahwa mayoritas orang lebih sering mengarahkan penglihatan mayornya ke luar dari minor object. Padahal untuk bisa melihatnya dibutuhkan pandangan mayor ke dalam dari major object yang sangat personal.
3. Pengecualian
Watak ketiga dari instruksi internal adalah sering memunculkan pengecualian yang diekspresikan ke dalam sudut pandang pribadi yang kuat. Instruksi tersebut bila diaplikasikan bisa berbentuk penolakan terhadap tatanan umum ketika dirasakan tidak sesuai. Kekokohan itulah yang menjadi alasan kuat untuk melakukan sesuatu berdasarkan instruksi dengan dalih personal yang tidak bisa dibendung meskipun oleh dirinya sendiri.
Hal ini bisa dibedakan dengan kekokohan yang dihasilkan dari ketergantungan pada instruksi dari luar (eksternal). Seandainya Ibnu Taimiyah mengikuti instruksi eksternal sebagaimana tatanan umum bahwa untuk menghasilkan karya haruslah didukung dengan fasilitas referensi, teknologi, ataupun ketenangan hidup, tentu beliau tidak akan menulis di penjara, bahkan dengan arang sekalipun.
Kunci Pembuka
Dari penjelasan singkat tentang watak atau sifat umum Instruktur Internal di atas, maka sangat logis jika dikatakan bahwa kunci untuk mengenalnya lebih dekat adalah mengetahui diri kita. Bahkan seorang pakar berpendapat bahwa memahami diri adalah pintu untuk mengetahui orang lain dan dunia. Tidak hanya itu, dalam agama pun, untuk menegakkan inti ajaran agama kita harus memahami kedudukan diri kita yang sebenarnya, yaitu sebagai hamba.
Perlu ditambahkan bahwa diri yang dimaksudkan di sini adalah "The Self" yang berarti memberi kemenangan terhadap diri atas "The Ego". Karena kemenangan lebih sering diberikan kepada "The Ego" - dorongan dari luar ke dalam, sehinga kunci untuk memahami instruksi internal yang akan menunjukkan kita pada bakat alamiah akhirnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau hanya berfungsi secara minimalis dengan hasil rata-rata.
Begitu besarnya kekuatan yang dihasilkan dari pemahaman diri. Oleh karena itu layaklah kita bertanya, dari mana dimulai? Sebelumnya perlu digaris-bawahi bahwa memahami diri adalah tahapan dari pencapaian proses sehingga tidak lepas dari upaya untuk meletakkannya sebagai materi belajar.
Aplikasi Belajar
Orang tidak menjadi langsung tahu siapa dirinya begitu ia dilahirkan, tetapi dapat menjadi tahu melalui proses pemberdayaan dari dalam ke luar. Materi pemberdayaan berikut bisa dijadikan langkah awal untuk memahami diri:
1. Eksplorasi
Sekian banyak rutinitas dan tetek bengek tatanan umum sering menciptakan pagar mental antara diri kita dan keadaan eksternal. Seringkali kita menganggap tatanan umum tersebut sebagai sesuatu yang mempengaruhi kita secara manipulatif dan intimidatif. Kalau dikembalikan bahwa realita adalah bayangan pemikiran kita, maka asumsi tersebut bukanlah kebenaran yang sesungguhnya melainkan pilihan antara mengubah atau tidak terhadap pola pikir kita. Eksplorasi diri bisa diartikan sebagai pilihan mengubah pola pikir untuk dapat merasakan perubahan realitas.
Contoh sederhana adalah niat kita ke sekolah. Ini bisa dipahami sebagai sebuah keharusan yang memiliki konsekuensi “hadiah” dan “hukuman”, tetapi di sisi lain menawarkan suatu celah untuk dipahami sebagai bagian penting dari eksplorasi diri. Memahaminya sebagai wilayah eksplorasi akan memunculkan optimalisasi tanggung jawab yang secara tidak langsung akan membuka lebih luas cakrawala tentang diri kita.
2. Labelisasi
Dari eksplorasi mental yang kita lakukan, buatlah label yang membedakan antara diri kita dengan orang lain, antara sesuatu yang bekerja dan sesuatu yang pasif, antara situasi spesifik dan situasi umum. Semakin banyak daftar label yang membedakan antara kita dengan orang lain, maka mempermudah untuk memahami diri kita. Hanya saja, sedikit perlu dicatat bahwa membuat label tidak bisa disamakan dengan membandingkan diri kita dengan orang lain. Label adalah membuat posisi mental dengan arah-fokus pada pemahaman ke dalam sementara perbandingan tidak punya arah-fokus demikian bahkan lebih sering berupa menghakimi diri sendiri.
3. Refleksi
Sulit diingkari bahwa banyak yang sudah kita jalankan atau gunakan tetapi banyak makna yang tidak terserap karena kita tidak menciptakan pemaknaan dengan sengaja. Refleksi diri adalah menciptakan zona bebas interaksi kecuali hanya dengan "the self" tentang "the self" untuk menemukan makna di dalam diri mengingat begitu besar makna yang dikandung. Tetapi perlu diakui, justru sebagian besar energi, waktu dan perhatian sering kita habiskan untuk menemukan makna di luar.
Walhasil, bangkitkan instruksi internal dirimu dengan lebih memahami kemampuan diri dan eksplorasi kemampuan sekitar. Di situ, akan kita dapatkan diri kita lebih bermakna bersama orang-orang di sekelililing kita, lebih menghargai kemampuan diri dan memnepis pengaruh buruk akibat bujuk rayu syetan karena pada dasarnya ada kekuatan dalam dirimu. Dan Bersyukurlah atas nikmat yang telah diberikan oleh ALLAH SWT. Selamat mencoba!
-sby-
Senin, 01 September 2008
1001 Hikmah di Balik Laparmu!
Melalui ibadah Ramadhan, sangatlah diharapkan setiap muslim dan muslimah bisa menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosialnya. Karena Islam adalah agama rahmat. Islam menganjurkan kebajikan dalam segala hal.
Setelah merasakan pahitnya menahan lapar dan dahaga sebulan penuh, seyogyanya bulir-bulir kasih terhadap sesama muslim yang menderita, dapat tumbuh dengan subur, dalam baluran iman yang juga semakin kuat.
Hikmah Kolosal
Puasa adalah ibadah penuh hikmah, terlebih-lebih puasa Ramadhan. Maka tidak salah, bila puasa digambarkan secara begitu kolosal,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Setiap hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, akan Allah pisahkan jarak antara dirinya dengan Neraka sejauh tujuh puluh musim gugur (70 Tahun). ”
Menurut sebagian ulama, kata musim gugur digunakan untuk menggambarkan betapa jauhnya seorang hamba dari Neraka, bila ia melaksanakan puasa karena Allah, karena di musim itu terkumpul udara panas di siang hari, namun di waktu lain dingin, ada kelembaban dan ada pula unsur kering . Sebuah musim yang spesifik, cocok dengan nilai spesifik dari ibadah puasa itu sendiri.
Nabi juga bersabda,
إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa tidak lain adalah perisai yang digunakan seorang hamba untuk melindungi dirinya dari Neraka. Aku sendiri yang ajkan memberi pahala untuk itu.” (Riwayat Ahmad)
"Puasa merupakan perisai, tak ubahnya perisai yang kalian gunakan dalam peperangan. "
Tentu dalam menghadapi buasnya belantara dunia ini kita butuh perisai yang berfungsi melindungi diri dari berbagai macam serangan dan tipu daya setan. Tanpa perisai ini kita mudah dilumpuhkan dan ditaklukkan oleh setan.
Ibnul Rajab Al-Hambali menjelaskan, 'Demikianlah, puasa dapat mendindingi seorang hamba dari pelbagai kemaksiatan di dunia, seperti yang tersebut dalam firman Allah,
"Hai orang-orang yang beriman, puasa telah ditetapkan sebagai syariat bagi kalian agar kalian menjadi orang-orang bertakwa. " (Al-Baqarah : 185)
Itulah sebabnya, Nabi n amat mengecam orang yang berpuasa hanya sekadarkan tidak makan dan tidak minum, sementara ia tidak menjaga lisan, hati dan anggota tubuhnya dari perbuatan haram.
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَ الشُّرْبِ, إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَفَثِ, فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
"Puasa itu bukan hanya menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum saja. Namun juga menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika seseorang memakimu atau berbuat jahil terhadapmu maka katakanlah padanya: Aku sedang mengerjakan puasa, aku sedang mengerjakan puasa."
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
"Berapa banyak orang yang mengerjakan puasa namun hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang mengerjakan shalat malam namun hanya mendapatkan rasa kantuk saja."
Perilaku Sosial Terbentuk
Setiap ibadah dalam Islam memiliki nilai-nilai implementasi akhlak. Kita tahu betul, betapa shalat, zakat dan haji, tidak semata-mata ibadah ritual yang memang disyariatkan khusus dalam Islam. Tapi para ulama seringkali menjelaskan hikmah-hikmah di balik setiap ibadah tersebut, juga nilai pelajaran moral serta akhlak di dalamnya. Termasuk juga puasa.
Setiap ibadah dan kebajikan dalam puasa, terutama di bulan Ramadhan, semakin meningkat pahala dalam melaksanakannnya, semakin bagus bobotnya. Karena –di antaranya—puasa juga memberikan suntikan nilai ke dalam ibadah-ibadah tersebut.
Terbinanya iman dan akhlak orang yang berpuasa, membuatnya lebih mampu melaksanakan ibadah dan kebajikan apapun secara lebih tulus, lebih berkwalitas.
Sedekah, dzikir, membaca Al-Quran, dan berbagai kebajikan lain, terasa lebih bernilai dan lebih khusyu, bila dilakukan saat sedang berpuasa. Maka, dengan melaksanan puasa –bila itu dilakukan dengan ikhlas--, pasti akan muncul motivasi untuk melakukan hal-hal yang penuh keutamaan, terutama sekali yang memiliki nilai 'sentuh' yang lebih akrab, dengan puasan itu sendiri, yaitu kecendrungan hati untuk berbuat baik terhadap sesama.
Banyak dalil dan nash yang memuliakan sikap penderma dan menolong orang yang membutuhkan. Terutama sekali orang-orang yang dekat di sekitar kita.
Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ جَارٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
"Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman." Mereka bertanya, 'Siapakah orang itu wahai Rasululloh?" Beliau menjawa. "Orang yang tidak bisa membuat tetangganya merasa aman.'.
Dalam riwayat lain:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
"Orang yang tidak bisa membuat tetangganya merasa aman dari kejahatannya, tidak dikatakan beriman.".
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَانِي إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ
"Dari Abu Dzarr diriwayatkan, bahwa Rasulullah n pernah berpesan kepadanya, 'Kalau engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihat para tetanggamu, dan berikan mereka gulai tersebut secara wajar.."
Itu beberapa nash yang memberikan anjuran agar kita berbuat baik kepada tetangga, senantiasa memperhatikan kondisi mereka, dan sesering mungkin memberikan hadiah, mungkin berupa makanan ala kadarnya, dan sejenisnya. Seorang muslim yang secara ikhlas menjalankan puasa sebulan penuh, pasti akan semakin tumbuh kesadaran sosialnya. Ia akan lebih perduli terhadap kondisi saudara-saudaranya seiman, termasuk yang terpenting adalah ibu, bapak, saudara, dan tidak lupa, tetangganya.
Hasrat Welas Asih Tergugah
Saat sedang lapar dan haus ketika berpuasa, minimal ada dua perasaan yang sering menggelitik jiwa:
Pertama, perasaan bahwa makanan dan minuman itu ternyata memiliki nilai karunia yang begitu besar, dan kerap kali kita kurang atau bahkan tidak menyadarinya. Begitu sadar, baru ketika kita sedang kelaparan atau mengalami kehausan di tingkat yang begitu menyusahkan.
Kedua, empati terhadap mereka yang mungkin saja mengalami lapar dan haus seperti yang kita alami saat berpuasa. Hanya bedanya, kita merasakan dalam sebuah ibadah yang dijanjikan begitu banyak pahala, sementara mereka merasakannya dalam keseharian, karena kemiskinan dan kefakiran mereka. Mereka lapar dan haus karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan dan minuman yang dapat mengganjal perut mereka. Bila makan dan minum, mereka harus mengaturnya sedemikian rupa, bahkan dengan jadwal yang semakin hari semakin tidak pasti. Di hari-hari biasa, kita mungkin kurang memerhatikannya. Saat berpuasa, semua terbayang begitu jelas di alam pikiran kita.
Maka, sangat wajar bila dengan berpuasa, diharapkan setiap kita mampu menggugah kesadaran yang 'tertidur' itu, mengajaknya bangkit dan menggeliat. Usai berpuasa, ladang-ladang kebajikan di sekitar kita begitu sabar menanti uluran tangan kita. Ruh puasa itu hendaknya menggugah semangat kita untuk lebih menyadari keberadaan saudara-saudara kita yang kekurangan itu. Ternyata mereka adalah kesempatan bagi kita untuk mencari rahmat Allah, dan memohon pengampunan atas dosa-dosa kita selama ini.....
Dalam sebuah kesempatan, Abu Umamah t bertanya kepada Rasulullah n,
"Wahai Rasulullah, tunjukkanlah untukku sebuah amal yang dapat memasukkanku ke dalam Surga?"
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,
عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ
"Hendaklah engkau mengerjakan puasa, sebab tidak ada amal yang sebanding dengannya."
-sby-
Setelah merasakan pahitnya menahan lapar dan dahaga sebulan penuh, seyogyanya bulir-bulir kasih terhadap sesama muslim yang menderita, dapat tumbuh dengan subur, dalam baluran iman yang juga semakin kuat.
Hikmah Kolosal
Puasa adalah ibadah penuh hikmah, terlebih-lebih puasa Ramadhan. Maka tidak salah, bila puasa digambarkan secara begitu kolosal,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Setiap hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, akan Allah pisahkan jarak antara dirinya dengan Neraka sejauh tujuh puluh musim gugur (70 Tahun). ”
Menurut sebagian ulama, kata musim gugur digunakan untuk menggambarkan betapa jauhnya seorang hamba dari Neraka, bila ia melaksanakan puasa karena Allah, karena di musim itu terkumpul udara panas di siang hari, namun di waktu lain dingin, ada kelembaban dan ada pula unsur kering . Sebuah musim yang spesifik, cocok dengan nilai spesifik dari ibadah puasa itu sendiri.
Nabi juga bersabda,
إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa tidak lain adalah perisai yang digunakan seorang hamba untuk melindungi dirinya dari Neraka. Aku sendiri yang ajkan memberi pahala untuk itu.” (Riwayat Ahmad)
"Puasa merupakan perisai, tak ubahnya perisai yang kalian gunakan dalam peperangan. "
Tentu dalam menghadapi buasnya belantara dunia ini kita butuh perisai yang berfungsi melindungi diri dari berbagai macam serangan dan tipu daya setan. Tanpa perisai ini kita mudah dilumpuhkan dan ditaklukkan oleh setan.
Ibnul Rajab Al-Hambali menjelaskan, 'Demikianlah, puasa dapat mendindingi seorang hamba dari pelbagai kemaksiatan di dunia, seperti yang tersebut dalam firman Allah,
"Hai orang-orang yang beriman, puasa telah ditetapkan sebagai syariat bagi kalian agar kalian menjadi orang-orang bertakwa. " (Al-Baqarah : 185)
Itulah sebabnya, Nabi n amat mengecam orang yang berpuasa hanya sekadarkan tidak makan dan tidak minum, sementara ia tidak menjaga lisan, hati dan anggota tubuhnya dari perbuatan haram.
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَ الشُّرْبِ, إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَفَثِ, فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
"Puasa itu bukan hanya menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum saja. Namun juga menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika seseorang memakimu atau berbuat jahil terhadapmu maka katakanlah padanya: Aku sedang mengerjakan puasa, aku sedang mengerjakan puasa."
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
"Berapa banyak orang yang mengerjakan puasa namun hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga. Dan berapa banyak orang yang mengerjakan shalat malam namun hanya mendapatkan rasa kantuk saja."
Perilaku Sosial Terbentuk
Setiap ibadah dalam Islam memiliki nilai-nilai implementasi akhlak. Kita tahu betul, betapa shalat, zakat dan haji, tidak semata-mata ibadah ritual yang memang disyariatkan khusus dalam Islam. Tapi para ulama seringkali menjelaskan hikmah-hikmah di balik setiap ibadah tersebut, juga nilai pelajaran moral serta akhlak di dalamnya. Termasuk juga puasa.
Setiap ibadah dan kebajikan dalam puasa, terutama di bulan Ramadhan, semakin meningkat pahala dalam melaksanakannnya, semakin bagus bobotnya. Karena –di antaranya—puasa juga memberikan suntikan nilai ke dalam ibadah-ibadah tersebut.
Terbinanya iman dan akhlak orang yang berpuasa, membuatnya lebih mampu melaksanakan ibadah dan kebajikan apapun secara lebih tulus, lebih berkwalitas.
Sedekah, dzikir, membaca Al-Quran, dan berbagai kebajikan lain, terasa lebih bernilai dan lebih khusyu, bila dilakukan saat sedang berpuasa. Maka, dengan melaksanan puasa –bila itu dilakukan dengan ikhlas--, pasti akan muncul motivasi untuk melakukan hal-hal yang penuh keutamaan, terutama sekali yang memiliki nilai 'sentuh' yang lebih akrab, dengan puasan itu sendiri, yaitu kecendrungan hati untuk berbuat baik terhadap sesama.
Banyak dalil dan nash yang memuliakan sikap penderma dan menolong orang yang membutuhkan. Terutama sekali orang-orang yang dekat di sekitar kita.
Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ لَا وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ جَارٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
"Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman. Tidak, demi Allah tidak beriman." Mereka bertanya, 'Siapakah orang itu wahai Rasululloh?" Beliau menjawa. "Orang yang tidak bisa membuat tetangganya merasa aman.'.
Dalam riwayat lain:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
"Orang yang tidak bisa membuat tetangganya merasa aman dari kejahatannya, tidak dikatakan beriman.".
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ إِنَّ خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَانِي إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ
"Dari Abu Dzarr diriwayatkan, bahwa Rasulullah n pernah berpesan kepadanya, 'Kalau engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihat para tetanggamu, dan berikan mereka gulai tersebut secara wajar.."
Itu beberapa nash yang memberikan anjuran agar kita berbuat baik kepada tetangga, senantiasa memperhatikan kondisi mereka, dan sesering mungkin memberikan hadiah, mungkin berupa makanan ala kadarnya, dan sejenisnya. Seorang muslim yang secara ikhlas menjalankan puasa sebulan penuh, pasti akan semakin tumbuh kesadaran sosialnya. Ia akan lebih perduli terhadap kondisi saudara-saudaranya seiman, termasuk yang terpenting adalah ibu, bapak, saudara, dan tidak lupa, tetangganya.
Hasrat Welas Asih Tergugah
Saat sedang lapar dan haus ketika berpuasa, minimal ada dua perasaan yang sering menggelitik jiwa:
Pertama, perasaan bahwa makanan dan minuman itu ternyata memiliki nilai karunia yang begitu besar, dan kerap kali kita kurang atau bahkan tidak menyadarinya. Begitu sadar, baru ketika kita sedang kelaparan atau mengalami kehausan di tingkat yang begitu menyusahkan.
Kedua, empati terhadap mereka yang mungkin saja mengalami lapar dan haus seperti yang kita alami saat berpuasa. Hanya bedanya, kita merasakan dalam sebuah ibadah yang dijanjikan begitu banyak pahala, sementara mereka merasakannya dalam keseharian, karena kemiskinan dan kefakiran mereka. Mereka lapar dan haus karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan dan minuman yang dapat mengganjal perut mereka. Bila makan dan minum, mereka harus mengaturnya sedemikian rupa, bahkan dengan jadwal yang semakin hari semakin tidak pasti. Di hari-hari biasa, kita mungkin kurang memerhatikannya. Saat berpuasa, semua terbayang begitu jelas di alam pikiran kita.
Maka, sangat wajar bila dengan berpuasa, diharapkan setiap kita mampu menggugah kesadaran yang 'tertidur' itu, mengajaknya bangkit dan menggeliat. Usai berpuasa, ladang-ladang kebajikan di sekitar kita begitu sabar menanti uluran tangan kita. Ruh puasa itu hendaknya menggugah semangat kita untuk lebih menyadari keberadaan saudara-saudara kita yang kekurangan itu. Ternyata mereka adalah kesempatan bagi kita untuk mencari rahmat Allah, dan memohon pengampunan atas dosa-dosa kita selama ini.....
Dalam sebuah kesempatan, Abu Umamah t bertanya kepada Rasulullah n,
"Wahai Rasulullah, tunjukkanlah untukku sebuah amal yang dapat memasukkanku ke dalam Surga?"
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,
عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ
"Hendaklah engkau mengerjakan puasa, sebab tidak ada amal yang sebanding dengannya."
-sby-
Label:
ramadhan
Rabu, 18 Juni 2008
SMAGE LULUS 100%
Akhirnya..... berita gembira itu datang juga. Semua siswa-siswi smage lulus dalam pertarungan melawan "Si Unas". Kebahagiaan ini adalah kali kedua secara berturut-turut yang diterima oleh smage. Setahun yang lalu pemegang rekor NUN tertinggi,baik IA/IS, adalah siswi smage asal kemlagi, yaitu Wiwik. Untuk tahun ini, kami selaku admin blog ini belum menerima kabar tentang siapa yang menjadi jawara di smage. Kabar inipun datang dari alumni smage yang berkuliah di Unibraw,Yoga.
Kebanggaan ini seharusnya dapat kita pertahankan hingga angkatan-angkatan berikutnya. Kami selaku alumni smage mengucapkan selamat atas keberhasilan teman-teman, selain itu kami mengucapkan selamat datang di komunitas alumni smage. Informasi-informasi penting terkait keputusan teman-teman untuk melakukan apa setelah SMA dapat didapatkan di dalam blog ini. SMAGE DAHSYAT,LUAR BIASA,FANTASTIS.
Kebanggaan ini seharusnya dapat kita pertahankan hingga angkatan-angkatan berikutnya. Kami selaku alumni smage mengucapkan selamat atas keberhasilan teman-teman, selain itu kami mengucapkan selamat datang di komunitas alumni smage. Informasi-informasi penting terkait keputusan teman-teman untuk melakukan apa setelah SMA dapat didapatkan di dalam blog ini. SMAGE DAHSYAT,LUAR BIASA,FANTASTIS.
Jumat, 06 Juni 2008
DATA ALUMNI
Setelah membaca pesan dari beberapa teman,entah mereka alumni atau pengunjung,tentang dibuatnya profil alumni,kami memutuskan untuk merealisasikannya. Teman-teman alumni smage dapat mengirimkan data pribadi masing-masing ke alamat email alumni_smage@yahoo.co.id.
Dengan ketentuan :
subject-->profil alumni smage
isian data :
Nama lengkap :
Nama keren : [nama panggilan di sma jika ada]
Tempat/tgl lahir :
Alamat :
No.Telp/HP : [jika berkenan]tidak akan ditampilkan
Email : [jika punya]
Friendster : [jika punya]
Asal Kelas : [kelas terakhir]
Tahun Masuk :
Tahun lulus :
Status sekarang : [mahasiswa[universitas]/bekerja]
Teman-teman juga dapat melampirkan foto pribadi dan/ foto yang bertemakan smage di profil yang anda kirim.
Terimakasih semoga form di atas dapat dijadikan nostalgia kita bersama.
Dengan ketentuan :
subject-->profil alumni smage
isian data :
Nama lengkap :
Nama keren : [nama panggilan di sma jika ada]
Tempat/tgl lahir :
Alamat :
No.Telp/HP : [jika berkenan]tidak akan ditampilkan
Email : [jika punya]
Friendster : [jika punya]
Asal Kelas : [kelas terakhir]
Tahun Masuk :
Tahun lulus :
Status sekarang : [mahasiswa[universitas]/bekerja]
Teman-teman juga dapat melampirkan foto pribadi dan/ foto yang bertemakan smage di profil yang anda kirim.
Terimakasih semoga form di atas dapat dijadikan nostalgia kita bersama.
Kamis, 29 Mei 2008
Visi Misi
Visi :
Membentuk generasi keluarga besar smage yang beriptek, berprestasi ,dan berakhlaq mulia yang berlandaskan atas ketaqwaan terhadap Tuhan Y.M.E.
Misi :
Membentuk generasi keluarga besar smage yang beriptek, berprestasi ,dan berakhlaq mulia yang berlandaskan atas ketaqwaan terhadap Tuhan Y.M.E.
Misi :
- Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Y.M.E. sebagai dasar untuk bersosialisasi di masyarakat.
- Menciptakan alumni pada khususnya dan keluarga besar smage pada umumnya yang berkualitas di bidang iptek serta memiliki kecakapan hidup yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
- Membentuk alumni dan keluarga besar smage yang berkompeten di berbagai bidang.
- Mengoptimalkan komitmen seluruh keluarga besar smage, khususnya para alumni, untuk bersosialisasi dan mengerahakan segenap kemampuan yang dimilikinya bagi bangsa dan negara.
- Memperpendek jarak antara alumni dengan alumni dan alumni dengan almamater.
- Memberikan informasi terkini kepada sesama alumni dan keluarga besar smage.
- Memberikan solusi atas permasalahan keluarga besar smage.
Sejarah
Forsil smage dibentuk pada bulan Januari 2008 bertepatan dengan berakhirnya UAS beberapa alumni smage. Tempat yang digunakan untuk pertemuan perdana para pendiri forsil ini adalah di Mushollah Ibnu Shina yang berada di dalam komplek smage. Beberapa alumni yang hadir pada acara itu memutuskan untuk memilih Sudibyo sebagai ketua forsil dan Yoga sebagai wakilnya. Selain kedua pengurus tersebut beberapa alumni yang hadir berasal dari UNIBRAW, ITS, UNESA, Unmuh Malang, STIKOM Surabaya, PENS-ITS, IPB, STIKES Mojokerto, UNAIR, dan dari beberapa alumni yang telah melanjutkan kuliah baik di PTN, maupun PTS.
Setelah diambilnya beberapa keputusan pada pertemuan tersebut, beberapa pendiri menginginkan dibuatnya blog agar dapat digunakan untuk berkomunikasi dari jarak jauh. Hal ini dimaksudkan agar para alumni yang tinggal jauh dari Mojokerto dapat mengeluarkan uneg2nya. Dan perlu diingat bahwa blog ini diperuntukkan untuk semua alumni tanpa membedakan mereka yang melanjutkan sekolah atau yang bekerja bahkan menikah.
Setelah diambilnya beberapa keputusan pada pertemuan tersebut, beberapa pendiri menginginkan dibuatnya blog agar dapat digunakan untuk berkomunikasi dari jarak jauh. Hal ini dimaksudkan agar para alumni yang tinggal jauh dari Mojokerto dapat mengeluarkan uneg2nya. Dan perlu diingat bahwa blog ini diperuntukkan untuk semua alumni tanpa membedakan mereka yang melanjutkan sekolah atau yang bekerja bahkan menikah.
Home
Blog forum silaturahmi alumni smage ini sengaja dibuat untuk menyambung kembali tali silaturahmi alumni smage Mojokerto. Blog ini adalah salah satu "lidah" penyambung antara sesama alumni smage dengan keluarga besar smage. Kami berterimakasih kepada semua guru : Bapak kepsek, wakasek, Pak Sun'an, Pak Doni, Pak Nasir, Pak Syamsuari, Bu Ervi, Bu Khurottin, dan semua jajaran pengajar smage yang telah membawa kami hingga lulus SMA.
Tidak lupa kepada teman2 pembentuk forsil : SBY, PW, Yoga, David, Resta,Yusuf,Angga, Ferdi, Tiwik, Ayu, Cindy,dan semua yang tidak mungkin kami sebut satu persatu. Dan yang terpenting adalah semua alumni yang telah memberikan dukungannya atas terbentuknya forsil ini.
Blog ini tidak hanya diperuntukkan kepada keluarga besar smage saja, tapi dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan khususnya di Mojokerto. Hal-hal yang berbau politik, sosial, dan ekonomi juga dapat didiskusikan bersama. Blog ini adalah blog multikultural yang tidak membahas penghinaan atas suatu suku, agama, dan ras (SARA).
Kami berharap agar blog ini dapat digunakan dengan semestinya. Indonesia membutuhkan kita. SMAGE DAHSYAT, LUAR BIASA, FANTASTIS.
Tim Penyusun :
Tidak lupa kepada teman2 pembentuk forsil : SBY, PW, Yoga, David, Resta,Yusuf,Angga, Ferdi, Tiwik, Ayu, Cindy,dan semua yang tidak mungkin kami sebut satu persatu. Dan yang terpenting adalah semua alumni yang telah memberikan dukungannya atas terbentuknya forsil ini.
Blog ini tidak hanya diperuntukkan kepada keluarga besar smage saja, tapi dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan khususnya di Mojokerto. Hal-hal yang berbau politik, sosial, dan ekonomi juga dapat didiskusikan bersama. Blog ini adalah blog multikultural yang tidak membahas penghinaan atas suatu suku, agama, dan ras (SARA).
Kami berharap agar blog ini dapat digunakan dengan semestinya. Indonesia membutuhkan kita. SMAGE DAHSYAT, LUAR BIASA, FANTASTIS.
Tim Penyusun :
- Sudibyo IA1
- Ayub IA1
- Riyanto IA2
- Yusuf IA3
Langgan:
Entri (Atom)
